Mengakhiri 2020, Mengawali 2021

Kita semua punya cerita tentang 2020. Kita telah kehilangan, menemukan, berduka, tersentuh, khawatir, terinspirasi, menangis, tertawa. Semuanya, dalam situasi yang serba aneh. Dalam Bahasa Inggris, kata “aneh” membawa kita ke tiga istilah lain yang mungkin menggambarkan 2020 secara keseluruhan: tak terduga, membingungkan, dan luar biasa. Pandemi ini melibatkan virus yang tak terduga cara penularan dan dampaknya. Cara pemerintah menanggapi pandemi (masih) membingungkan. Terlepas dari itu semua, kita telah menunjukkan sisi luar biasa. Segala sesuatu sejak pandemi melanda adalah hal baru bagi kebanyakan dari kita. Namun, kita terus melangkah maju. Merefleksikan semua itu, saya menulis ini sebagai ajakan untuk tidak membiarkan apa yang telah kita pelajari di tahun 2020 sia-sia belaka.

Sains masih menjadi taruhan terbaik kita, tetapi hanya jika kita mendengarkannya.

Suatu saat di bulan September 2019, saya mendengarkan podcast Sam Harris ‘Making Sense. Episodenya “The Plague Years,” di mana dia mewawancarai penulis “Superbugs: The Race to Stop an Epidemic”. Mereka membicarakan semua yang kita hadapi sekarang. Beberapa tahun sebelumnya, saya mengikuti kelas-kelas yang menggunakan wabah Ebola sebagai contoh kasus. Saya beruntung karena pandemi ini tidak mengejutkan saya, tetapi saya bahkan lebih beruntung karena tidak ada orang di tim kita yang menyangkalnya. Setiap dari kita berkesadaran untuk paham. Naluri untuk mendengarkan sains dan mengamati bukti telah memungkinkan kita menyesuaikan cara kerja sejak 16 Maret dan mempersiapkan diri untuk jangka panjang. Segera setelah kantor tutup, kita tahu situasi ini bakal jadi maraton, bukan lari cepat.

Tim, terima kasih atas komitmen kalian untuk terus memeriksa fakta dan menginterogasi interpretasi kita. Terima kasih atas kesabaranmu karena pengetahuan berkembang perlahan, dan pemahaman biasanya dibangun di atas serangkaian hasil yang tidak sempurna.

Dalam situasi yang membingungkan, beradaptasi adalah sumber harapan kita.

Mengetahui bahwa pandemi ini tidak akan hilang dengan cepat (seperti yang dikatakan pemerintah saat itu), kita membangun sistem untuk memastikan kita semua aman dan dapat memitigasi konsekuensinya. Manajemen menyadari bahwa setiap arah yang diambil secara bersamaan merenggut pilihan dari beberapa orang. Kita beralih ke bekerja jarak jauh terkoordinasi secara penuh untuk kepentingan terbaik kita, orang-orang di sekitar kita, dan respons pandemi itu sendiri. Kita telah mempraktikkan kerja jarak jauh parsial selama bertahun-tahun karena kita mengukur kinerja kita berdasarkan kualitas kerja dan kepatuhan pada tenggat waktu, bukan kehadiran fisik. Namun, kita juga tahu bahwa pergi ke kantor telah memberikan struktur, tujuan, atau pelarian sesekali bagi sebagian orang. Tanggung jawab manajemen adalah mendukung tim agar tetap dalam keadaan baik, gesit, dan terhubung secara virtual. Namun keberhasilan transisi ini terletak pada keputusan kita untuk melakukan hal-hal praktis meski sulit sekarang karena kita peduli dan berpikir cerdas tentang masa depan.

Tim, terima kasih atas kemampuan kita semua beradaptasi.

Keterampilan pengelolaan adalah modal bertahan hidup.

Tahun ini kita belajar untuk tidak menganggap remeh keterampilan mengelola tidak hanya pekerjaan tetapi mengelola diri dan hidup sehari-hari. Pertama, kita membuat rencana. Kita mengidentifikasi masalah, menetapkan tujuan, dan mengurai kendala untuk ditangani. Kedua, kita mengalokasikan sumber daya, baik waktu, uang, jaringan, dukungan orang lain. Ketiga, kita menerapkan disiplin melakukan dan mengevaluasi.

Tim, terima kasih untuk selalu mengupayakan yang terbaik melalui kolaborasi. Untuk mengakui kesalahan dan kekurangan kita tetapi tidak membiarkan diri kita larut dalam rasa bersalah dan kekecewaan. Untuk mengetahui kapan harus bertindak, menjadwalkan, mendelegasikan, dan merelakan. Untuk menyesuaikan target tanpa cepat berpuas diri. Untuk mengeksplorasi masalah secara intelektual meski kita pertama kali tertarik pada suatu topik secara emosional, dan sebaliknya. Untuk pandai mengenali perasaan kita. Untuk bersikap baik kepada orang lain dan diri kita sendiri.

Didukung oleh mitra, tahun ini kita menyelesaikan tujuh studi, menulis lebih dari selusin laporan, dan menjangkau lebih dari 2.000 orang melalui kegiatan kita. Kita mempublikasi tiga artikel jurnal dan memasukkan beberapa manuskrip. Kita terus membantu pelaksanaan beberapa strategi nasional dan pengembangan yang baru. Kita mengkaji cara mempertahankan penelitian dan advokasi yang bermakna dan etis tentang anak-anak dan kelompok rentan di masa kontak langsung dapat membuat orang yang ingin kita bantu justru bisa terpapar risiko kesehatan. Kita akan terus mengeksplorasi ini. Kita juga berkontribusi pada respons pandemi. Melalui kerja kolaboratif, kita mengembangkan pedoman mengidentifikasi populasi rentan untuk didaftarkan pada program jaring pengaman. KIta mendampingi 12 kabupaten di empat provinsi dan perangkat desanya untuk memfasilitasi akses bantuan sosial bagi individu rentan selama pandemi. Kita ikut melatih relawan kesehatan dan komunitas, dan mengembangkan serangkaian rekomendasi kebijakan untuk respons dan memulihkan dampak COVID-19 pada anak-anak dan individu rentan. Melalui semua pencapaian ini, kita mengelola pikiran dan energi kita. Sebagai individu dan sebagai tim. Sementara, kita juga mengurus rumah kita, orang-orang di bawah asuhan kita, dan diri kita sendiri.

Semuanya berubah, dan yang paling rentan yang menanggung dampak yang paling merugikan.

Tentunya kita tidak ingin tahun ini didikte oleh pandemi, tetapi sepertinya begitu, dan sepertinya belum akan berakhir segera. Babak selanjutnya setelah pandemi selesai pun masih tidak pasti. Yang pasti, kita tahu bahwa pandemi ini telah mengungkap masalah ketidaksetaraan dan ketidakadilan yang terabaikan. Kita tahu bahwa guncangan serupa selanjutnya akan berdampak buruk pada mereka yang paling rentan secara timpang. Kita frustrasi tetapi juga diyakinkan akan jalan yang kita pilih. Semua yang telah kita pelajari tahun ini dan sebelumnya akan terus mendorong pemikiran dan tindakan kita untuk membantu mengatasi tantangan, menolong anak-anak dan individu rentan yang terkena dampak, dan memitigasi penderitaan akibat kemiskinan, kekerasan dan diskriminasi, serta berbagai risiko kedaruratan.

Saya berpikir panjang tentang apa harapan saya untuk tahun 2021. Mau tidak mau, saya jadi memikirkan apa harapan saya untuk 2020 dulu meleset jauh. Di akhir tahun 2019, saya menulis:

Memasuki tahun 2020, saya ingin mengulangi doa yang saya buat saat ulang tahun PUSKAPA Agustus lalu. Saya berharap kita bisa terus bergerak dalam kecepatan yang memungkinkan kita untuk berpikir, memahami masalah, dan membuat mereka yang tidak terbantu oleh sistem menjadi terlihat. Saya berharap kita terus bisa memperluas kehadiran fisik, emosional, dan intelektual kita dalam menciptakan dan memelihara ruang aman tempat masalah-masalah penyisihan, kekerasan, pengucilan, dan ketidakadilan dipecahkan.

Saya bisa mengatakan kita melakukan semua itu sepanjang 2020.

Merayakan tahun baru bisa tergantung situasi, tetapi punya harapan itu tekad yang disengaja. Mari kita melangkah ke tahun 2021 dengan kejernihan pikir, kebaikan hati, dan tekad untuk bermanfaat. Saya berharap setiap orang mendapat kemudahan dalam memahami dunia meski sementara waktu tak bisa melihat isyarat sosial dan mendapat kedamaian melalui kerja-kerja yang baik meski dalam interaksi yang terbatas.

Selamat Tahun Baru!

We work with policymakers and civil society on inclusive solutions that create equal opportunities for all children and vulnerable populations.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store